Home / Besadu / Headline / Parlemen

Saturday, 17 January 2026 - 09:04 WIB

Gus Yaqut, Tinggal di Prancis 24 Hari demi Hindari Pansus Haji

Foto ; repro/fb/terkinidotid/ist

Foto ; repro/fb/terkinidotid/ist

Besadu.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Kasus dugaan korupsi kuota haji 2024 yang melibatkan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, mencuat ke permukaan publik dengan berbagai twist yang mengungkap lebih dari sekadar persoalan administratif.

Kasus ini mulai menarik perhatian besar, karena selain menyangkut sektor agama dan ibadah umat Islam, juga melibatkan aspek politik yang lebih luas, yang mencakup peran dari lingkaran kekuasaan tertinggi, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam sebuah tayangan podcast, Islah Bahrawi, teman dekat Gus Yaqut, mengungkapkan kisah menarik di balik absennya Menteri Agama tersebut dalam pembahasan Panitia Khusus (Pansus) Haji DPR RI 2024.

Menurut Islah, kisah ini bukan hanya soal pembagian kuota haji, melainkan juga tentang bagaimana kebijakan politik dalam negeri dan hubungan internasional terjalin erat dengan keputusan-keputusan yang diambil di tingkat tertinggi pemerintahan.

Islah juga mengungkapkan bahwa absen Gus Yaqut dari Pansus Haji DPR RI bukanlah kebetulan, melainkan keputusan yang sengaja diambil berdasarkan instruksi langsung dari Presiden Jokowi.

Latar Belakang dan Awal Polemik:

Segalanya bermula dari tambahan kuota haji Indonesia sebanyak 20.000 jemaah untuk tahun 2024, yang menjadi sorotan utama dalam dunia keagamaan dan politik Indonesia. Kuota haji ini sebelumnya sudah menjadi masalah besar karena antrean haji Indonesia yang sangat panjang.

Islah mengungkapkan bahwa tambahan kuota ini bukan hasil lobi dari Menteri Agama, melainkan langsung diberikan oleh Presiden Jokowi kepada pemerintah Arab Saudi. Sebuah langkah diplomatik yang sangat penting mengingat Indonesia memiliki jumlah jemaah haji terbesar di dunia.

Namun, yang menarik adalah kehadiran Dito Ariotedjo, Menteri Pemuda dan Olahraga, dalam pertemuan dengan Raja Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), yang dilakukan tanpa kehadiran Gus Yaqut.

Hal ini menjadi pertanyaan besar mengingat posisi Yaqut sebagai Menteri Agama, yang seharusnya menjadi pihak yang terlibat langsung dalam urusan haji. Dito sendiri diketahui merupakan menantu dari Fuad Hasan Masyhur, pemilik biro perjalanan haji dan umrah Maktour, yang kini terjerat kasus dugaan korupsi terkait kuota haji.

Dengan adanya nama Dito dalam pertemuan tersebut, banyak pihak yang mulai mempertanyakan siapa sebenarnya yang bertanggung jawab di balik keputusan penting terkait kuota haji ini.

Pembentukan Pansus Haji dan Absennya Gus Yaqut:

Krisis semakin membesar ketika DPR RI membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk menyelidiki pembagian kuota haji yang menuai polemik. Publik pun bertanya-tanya mengapa Gus Yaqut, yang seharusnya bertanggung jawab, berulang kali mangkir dari panggilan DPR.

Islah Bahrawi, yang pada waktu itu dekat dengan Gus Yaqut, merasa kecewa dan memutuskan untuk mendatangi langsung sang Menteri Agama. Ia menanyakan alasan Gus Yaqut tidak hadir di Pansus Haji dan memberikan penjelasan tentang kebijakan pembagian kuota haji.

Menanggapi pertanyaan itu, Gus Yaqut memberikan jawaban yang mengejutkan. Ternyata, pada saat yang bersamaan dengan pembentukan Pansus Haji, Indonesia mendapat undangan untuk mengikuti konferensi perdamaian dunia yang dibuka langsung oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Keputusan awal menyebutkan bahwa Presiden Jokowi akan mewakili Indonesia, namun kemudian berubah dan ditunjuklah Gus Yaqut sebagai Menteri Agama yang diharapkan bisa mewakili Indonesia dalam acara tersebut.

Keputusan ini membuat Gus Yaqut harus meninggalkan Tanah Air dan mengikuti acara di Prancis, yang semula hanya dijadwalkan berlangsung selama dua hingga tiga hari.

Penugasan Strategis: “Buying Time” di Eropa:

Namun, yang mengejutkan adalah kenyataan bahwa Gus Yaqut akhirnya harus tinggal di Eropa selama 24 hari. Islah mengungkapkan bahwa penugasan ini tidaklah kebetulan. “Itu perintah langsung dari Presiden Jokowi,” tegas Islah.

Baca Juga:  “Apel Gabungan Siaga Bencana Tahun 2025” untuk Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi

Selama 24 hari tersebut, Gus Yaqut berkeliling Eropa tanpa kepastian kapan harus kembali ke Indonesia.

Kegiatan di luar negeri itu ternyata dimaksudkan untuk menunda, atau dalam istilah yang digunakan oleh Islah, “buying time,” dengan harapan bahwa situasi politik domestik akan mereda. Sementara itu, di Indonesia, isu kuota haji terus memanas.

Gus Yaqut dalam dilema besar: jika ia memilih untuk menghadiri Pansus Haji, ia akan berhadapan langsung dengan Presiden Jokowi, yang menjadi atasan langsungnya.

Namun jika ia memilih untuk tidak hadir, maka ia akan menghadapi tekanan dari DPR dan publik yang menuntut penjelasan. Pada akhirnya, Gus Yaqut memilih untuk mengikuti arahan Presiden dan absen dari Pansus Haji.

Penyelidikan KPK dan Reaksi Publik:

Setelah berakhirnya masa tugas Gus Yaqut di luar negeri, Pansus Haji DPR RI sudah selesai bekerja dan masalah kuota haji meredup. Namun, masalah ini kembali mencuat setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gus Yaqut sebagai tersangka dalam dugaan korupsi kuota haji 2024.

Penyidikan ini memunculkan kembali berbagai pertanyaan terkait siapa saja yang terlibat dalam skandal ini. Apakah benar keputusan yang diambil hanya melibatkan Gus Yaqut, atau ada pihak lain yang bermain di belakang layar?

Islah sendiri menyatakan bahwa ia tidak ingin menuduh siapa pun, namun berdasarkan rangkaian peristiwa yang ada, terlihat jelas bahwa Gus Yaqut bukanlah satu-satunya aktor dalam kasus ini.

“So we know who were playing in this game,” tegas Islah, yang secara tidak langsung mengisyaratkan adanya keterlibatan pihak-pihak lain yang turut berperan dalam persoalan ini.

Pembelajaran dan Refleksi:

Kisah ini memberikan berbagai pembelajaran penting bagi masyarakat Indonesia. Pertama, dalam konteks politik, keputusan-keputusan yang diambil oleh pemimpin negara sering kali melibatkan berbagai pertimbangan yang tidak selalu transparan.

Keputusan Presiden untuk mengalihkan mandat konferensi perdamaian ke Gus Yaqut menunjukkan betapa pentingnya kebijakan internasional dalam pengambilan keputusan domestik, meskipun keputusan tersebut berisiko menimbulkan ketegangan politik di dalam negeri.

Kedua, masalah ini membuka tabir gelap mengenai tata kelola haji Indonesia. Kuota haji yang selama ini menjadi kebanggaan bagi Indonesia sebagai negara dengan umat Islam terbesar, ternyata menyimpan masalah besar terkait transparansi dan akuntabilitas.

Kasus dugaan korupsi ini tidak hanya menyangkut pejabat pemerintah, tetapi juga mencakup berbagai pihak yang berkepentingan dalam biro perjalanan haji dan umrah.

Ketiga, absennya Gus Yaqut dari Pansus Haji mengingatkan kita pada pentingnya keberanian seorang pejabat untuk menghadapi tantangan dan memberikan penjelasan kepada publik.

Dalam konteks ini, sikap menghindar atau bersembunyi dari tanggung jawab justru menambah spekulasi dan kecurigaan yang bisa merugikan semua pihak.

Kasus ini menunjukkan bagaimana kompleksnya dunia politik dan pemerintahan di Indonesia, yang tidak hanya melibatkan keputusan administratif, tetapi juga pertarungan kepentingan dan keputusan-keputusan yang bisa mempengaruhi citra pemerintah.

Meskipun Gus Yaqut mungkin hanya menjadi salah satu korban dalam pusaran kasus ini, namun kisahnya mengajarkan kita pentingnya transparansi, keberanian untuk menghadapi tantangan, serta integritas dalam mengelola urusan umat.

Akhirnya, publik berhak untuk mengetahui siapa saja yang sebenarnya terlibat dalam kasus kuota haji ini, dan bagaimana tata kelola haji yang seharusnya menjadi simbol keberhasilan Indonesia, justru dapat terjebak dalam pusaran dugaan korupsi yang merusak citra bangsa. | Besadu.Com | */Redaksi | *** |

Share :

Baca Juga

Massa Aksi Reuni PA 212 bergerak ke arah Jalan Sudirman, Kamis (2/12). Foto: Nugroho GN/kumparan

Besadu

Massa Reuni 212 Hanya Bisa Sampai Thamrin, Putar Balik ke HI Sambil Salawat

Besadu

M. Shadiq Pasadigoe ; Dari Bupati ke Anggota DPR RI, Hadirkan Harapan Baru bagi Sumbar

Besadu

23 Tahun Pengabdian Polri di Babel, Semangat Bersama untuk Negeri

Besadu

Mampau Kriya Fest 2025 ; Festival Kriya dan UMKM, Wadah Penguatan Ekonomi Kreatif

Besadu

Kunjungan Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan

Besadu

Pembatasan Kuota Pasien Gigi di Puskesmas Manggar ; Menyisakan Pertanyaan Besar

Besadu

Tingkatkan Kualitas Gizi Anak, Kapolda Babel Tinjau Langsung Proses MBG
Bobby Joseph. Foto: Instagram/@bobbyjsph

Besadu

Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph